Hati yang Tertukar (3)

Kulo piyambak’an mawon (Saya datang sendiri saja),” ucapan kalimat pembuka dari Ustaz Ahmad.

“Lho, kok sendiri? Mana calon imamku, Azzam Khoirul Amir?” tanyaku pada diri sendiri.

Oh, mungkin ia tak sempat hadir karena berhalangan atau mungkin Mas Azzam malu untuk menemuiku. 

Aliffa Yulistiani Khairiyyah

Mas Azzam, kemana sih kamu? Aku sudah mempersiapkan semuanya. Inisial nama kita terpasang di dinding ruang tengah ini. Aku tak sabar untuk bersanding, berfoto denganmu.

“Jadi, Ibu Bapak, mohon maaf sebelumnya, kedatangan saya kesini yang pertama untuk bersilaturahmi dengan keluarga panjenengan semua. Dan yang kedua, saya datang untuk melamar putri Bapak,” sambung beliau.

“Untuk yoganipun njenengan (Untuk anaknya kamu)?” lanjut tanya ayahku.

Ngapunten, Pak. Sanes, kangge kulo (Mohon maaf, Pak. Bukan, untuk saya).”

Apa? 

Apa maksudnya?

Bukan untuk Mas Azzam, tapi untuk beliau sendiri?

“Maksudnya, Antum mau melamar saya?” tanyaku memastikan. 

 “Iya, Zah” jawab beliau.

Tidak. 

Tidak mungkin. 

Tidak mungkin ini terjadi. 

Usia beliau saja terpaut lebih tua dari ayahku. Bagaimana mungkin beliau akan melamarku. Aku kan ingin Mas Azzam yang melamar, bukan bapak direktur. Dan yang kuinginkan adalah anaknya, bukan bapaknya.

Terkejutnya aku. Seakan detak jantungku berhenti mendadak. Aku tak tahu harus menjawab apa. Ini bukan yang kuharapkan. Dan aku tak pernah menginginkan ini terjadi. Aku tundukkan pandangan seketika.

Ya Allah, tolonglah hamba!

Apa yang harus hamba perbuat? 

Apa yang harus kujawab?

Tiba-tiba, semua pandangan tertuju padaku. Seakan semua orang mengharapkanku untuk segera menjawabnya.

“Bagaimana, Nduk?” tanya ayah yang menatapku. 

“Bapak kalih Ibu njih manut njenengan, kan sing menjalani niko njenengan, Nduk (Bapak dan ibu ya ikut kamu, kan yang menjalani itu kamu, Nak),” lanjutnya.

Ah, bapak selalu melimpahkan keputusan kepadaku. Bapak selalu ingin aku yang menentukan. Pak, kalau boleh jujur ya. Aku kan ingin anaknya bapak direktur, bukan orang yang duduk di hadapanku sekarang.

Sulit bagiku untuk mempertimbangkan. Di satu sisi, beliau adalah seorang direktur dan juga guruku. Aku segan hati untuk menolaknya. Di sisi lain, usia beliau terpaut sangat jauh, bahkan sudah kuanggap seperti ayahku sendiri. Terlebih lagi yang kuinginkan adalah anaknya.

Ya Allah, skenario apalagi yang sedang Kau persiapkan untukku? 

Apakah ini rahmat atau ujian?

“Ayo, Nduk, jawab!” desak ibuku.

“Kalau boleh memilih, bolehkah saya menjawabnya tiga hari lagi? Karena saya perlu waktu untuk istikarah dan memohon yang terbaik di sisi Allah.”

Beliau menyetujui pilihanku. Beliau akan menunggu jawabanku sampai tiga hari. Ingin rasanya, aku meluapkan apa yang menjadi beban dalam hatiku. Inginku menangis saat ini juga. Dan andaikan laut menerima airmataku, mungkin akan menjadi pasang seketika.

Aku tak memberitahukan siapapun tentang berita ini. Satu-satunya orang yang tahu adalah Afifah. Aku memintanya untuk tidak menyebarkan berita ini pada siapapun. Bahkan Zed saja tidak kukabari. Tapi kenapa Zed tidak menanyaiku ya? Apa mungkin Zed tidak tahu kalau ayahnya melamarku? 

Tiga hari untuk merenung dan berpikir. Dalam tiga hari ini juga aku punya kesempatan untuk berserah diri kepada Rabbku. Tuhan Maha Pengatur segala urusan. PadaNya kupasrahkan semuanya.

Ya Allah, jika benar Ustaz Ahmad adalah jodoh terbaik yang Engkau kirimkan untukku. Tolong beri aku petunjuk dan tanda.

Sudah hari kedua, masih belum juga ada tanda dari Allah. Atau mungkin Allah telah mengirimkan tanda itu, tapi aku belum merasakannya. 

Pikiranku semakin serabut, kacau dan mulai overthinking. Banyak hal yang kupikirkan sekarang. Bagaimana pandangan orang lain terhadapku, jika aku menikah dengan beliau. Bagaimana dengan anakku nanti. Pantaskah anakku memanggilnya ayah atau kakek. 

Ah, sungguh pikiran ini sangat mengganggu. Dalam dua hari ini, aku tak keluar kamar. Aku benar benar butuh waktu untuk sendiri. Rasanya tak ingin ada satu orang pun yang datang kepadaku, atau sekedar bertanya lewat chat

Siang itu, ibu datang ke kamarku. Berlinang airmata aku dipeluknya. 

“Ibu, Tifah mboten ngertos kedah nopo sak niki, Tifah bimbang buk e (Ibu, Tifah tak tahu harus berbuat apa sekarang, Tifah bimbang Buk),” 

Usapan tangan lembut itu menyentuh rambutku. Ibu memelukku dengan penuh kasih sayang. Seakan membayangkan anak perempuan sulungnya ini akan segera pindah ke tangan orang lain. Putri kecilnya ini akan berbakti bukan kepada orangtuanya lagi, tetapi pada suaminya kelak. 

Nduk, dalam kehidupan itu, kita hanya mengikuti jalan cerita yang Allah sudah takdirkan. Sebagai manusia, kamu tidak perlu banyak pertimbangan dan menyusahkan dirimu sendiri. Asal niatmu baik dalam melakukan segala hal, Allah akan memudahkan segala urusanmu. Ingat, Nduk, segala sesuatu itu ada pada ketetapan-Nya. Dia yang menjadi takdirmu, takkan melewatkanmu.”

Jleb. 

Kata-kata ibu begitu menusukku. Kenapa aku meragukan takdir Allah? Kenapa aku harus takut akan pendapat orang lain jika segalanya telah diatur oleh Allah? Bukankah katanya aku seorang hamba yang beriman, kenapa aku masih ragu?

Astaghfirullahal adzim, Latifah. (Zulfa/bersambung)

*****