Hati yang Tertukar (6

Tak lama kemudian Ustaz Ahmad menanyaiku. “Apakah Zed menghubungi?  Apakah Zed mengatakan sesuatu?”

Kujawab bahwa aku telah ceritakan semua yang terjadi. Cerita dari awal lamaran sampai keputusanku untuk menerima beliau.

Penulis :
Aliffa Yulistiani Khairiyyah

Belum tenang hatiku karena perubahan sikap Zed terhadapku. Aku tahu ia marah dan mungkin kecewa.

Andai kamu tau Zed. Jika aku bisa memilih. Tetap akan kupilih abangmu untuk bersanding denganku. Jika kau tak ingin ini terjadi pada keluargamu, bagaimana denganku, Zed. Ingin kulupakan isi hati terdalamku padanya.

Kuberanikan diri untuk mengirimkan pesan kepada Zed keesokan harinya. Rangkaian kata telah kupikirkan semenjak tadi malam. Rangkaian kalimat itu juga sudah menjadi draft dalam Whatsappku.

Zed..

Insyaallah tanggal 25 Juli, saya dan bapak antum akan melangsungkan akad nikah. Saya tidak bermaksud untuk mengambil-alih kedudukan ibunya antum, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Saya mohon kerelaan hati antum untuk menerima saya sebagai keluarga antum. Saya mohon jangan berubah sikap antara antum dengan bapak setelah saya menikah dengan beliau.

Saya tidak mau dengan adanya kehadiran saya, hubungan antum dengan bapak antum menjadi renggang. Saya sangat memohon maaf sebesar-besarnya.

Begitulah pesan yang dikirimkan padanya. Kuharap dia mengerti keadaanku sekarang. Kuharap juga ia pun menerima apa yang sudah menjadi keputusan ayahnya untuk menikahiku bulan depan.

Kuharap hatinya tenang, walau pun kutahu ia sedang gelisah. Sama halnya seperti kegelisahanku di hari-hari kemarin.

 “Iyo.”

Jawaban singkat dari Zed setelah aku mengirimi pesan itu. Pesan yang berisikan curahan hatiku. Kekhawatiranku akan apa yang terjadi dengan keluarga mereka.

Tak biasanya Zed begitu dingin terhadapku. Ya, dingin. Walaupun aku tak tau ekspresi apa yang sebenarnya ia perlihatkan. Aku juga tak tahu nada bagaimana yang ia ucapkan.

Apakah mungkin dia mengucapkan kata ‘iya’ dengan nada senang dan tinggi, dengan nada lirih, atau teriak seperti kesalnya seorang adik yang sedang dijahili oleh kakaknya.

Entahlah.

Aku hanya mengira-ngira dari apa yang kubaca.

Begitu dingin dan singkat.

Aku merasakan perbedaan itu. Aku tahu gaya bicara Zed. Aku tahu gaya penulisan pesan Zed. Bahkan aku bisa merasakannya walau pun dari satu kata yang ia berikan kepadaku.

Tapi apakah ini hanya perasaan burukku yang akhirnya memengaruhi diriku dalam membacanya? Atau memang tebakanku benar?

Kucoba memastikan. “Zed, kamu marah to sama aku?,” tanyaku.

Ora ih (Nggak ya),” singkat jawabannya.

Aku tahu ia sedang marah kepadaku dan aku tahu ia kecewa dengan keputusan apa yang ayahnya pilih, pun pilihanku untuk menerimanya.

Mungkin dia tak bisa membayangkan. Bagaimana mungkin, seorang aku yang dianggapnya sebagai teman atau kakak, akan menjadi ibu tirinya. Bagaimana mungkin yang katanya aku mencintai abangnya, tetapi memiliki ayahnya. Sungguh, rentetan kisah ini juga membuatku heran.

Tak lama notifikasi pesan baru muncul.

Oh, Zana rupanya.

Dia hanya mengirimkan salam. Mungkin ada yang ingin dia sampaikan. Apa mungkin pesan dari Zed?

Zana atau lengkapnya Nida Syazana adalah kekasih Zed. Zana sebetulnya adalah adik kelas Zed, terpaut dua tahun. Dan Zana juga pernah menjadi muridku saat ia masih duduk di bangku Aliyah.

“ Waalaikumsalam, iya Zana, ada apa?” kujawab salam yang ia hantarkan kepadaku.

“Begini, Zed sudah ceritakan semuanya ke saya tentang antunna dan ayahnya.”

Rasa penasaranku semakin memuncak.

Aku ingin tahu sebenarnya apa yang dirasakan Zed. Dan apa yang sedang Zed pikirkan tentang diriku.

Aku paham kalau ia tak ingin mengungkapkannya semua langsung kepadaku, atau pun kepada ayahnya. Tapi, semoga dia ceritakan semuanya ke Zana. Kuharap begitu.

Langsung kutelpon Zana. Tanpa berbasa-basi ia pun menceritakan apa yang Zed ceritakan kepadanya.

“Awalnya Zed sangat senang kalau bapaknya nikah lagi. Karena dia tahu kalau dia pun tak bisa jaga ayahnya. Dan dia tahu kondisi ayahnya yang kesepian.”

“Tapi setelah Zed tahu siapa orangnya, sebenarnya ia tak menerima itu. Tapi dia merasa iba ke bapaknya. Ia khawatir melukai hati seorang bapak yang sudah berusaha memperjuangkan segalanya untuknya. Bahkan dia sampai bisa kuliah ke Turki tanpa beasiswa.”

“Tetapi, lebih kecewanya lagi, kenapa harus dengan Ustazah Latifah yang sudah ia anggap seperti kakak sendiri.”

Berarti betul dugaanku. Dia kecewa dengan keputusan ayahnya ingin menikahiku. (Zulfa/ tamat)