Hati yang Tertukar (5)

“Bagaimana dengan tanggal pernikahannya, Ustaz?” tanya ayahku.

Kulo njih, kapan pun mawon saget. Siap mawon. Kulo njih manut kalih kesiapan keluarga nipun Latifah(Kalau saya, kapan pun bisa. Siap saja. Saya mengikuti kesiapan dari keluarga Latifah)

Penulis :
Aliffa Yulistiani Khairiyyah

Kapan pun bisa, kapan pun siap, kapan pun sanggup. Begitu hebatnya beliau.

Apakah beliau tidak segalau diriku saat memutuskan untuk melamarku?

Apakah beliau ingin segera mencari pengganti mendiang istrinya?

“Latifah, siapmu kapan?” tanyaku pada diri sendiri.

“Acaranya itu tidak perlu besar-besar. Sederhana saja! Ijab kabul begitu saja ya cukup. Apalagi sekarang kan musimnya Corona. Saya khawatir juga kalau mengundang banyak tamu. Di masjid samping sini pun tak masalah,” sambung beliau sembari menatap ayahku.

“Oh, njih Pak Ustadz, ngoten mawon njih saget,” jawab singkat ayahku.

“Bagaimana kalau bulan depan. Ndak bagus juga kalau lama-lama setelah khitbah. Keburu Latifah nanti berubah pikiran,” canda beliau.

Semua tertawa.

Bisa saja beliau menghangatkan saat suasana setegang ini. Beliau memanglah sosok yang ramah dan mudah bergaul dengan banyak orang. Tak seperti Mas Azzam yang pendiam.

Ayahku saja mengangguk-ngangguk dibuatnya. Ayahku mengiyakan semua perkataan beliau tanpa mengatakan hal lain.

Bulan depan, tanggal 25 Juli telah ditetapkan bersama.

“Bismillah, Latifah,” kupejamkan mata sejenak untuk mencoba menenangkan hati dan pikiran yang masih terus berkecamuk.

Kembali kuingat nasihat ibu dan Afifah. Aku kembali menguatkan hati. Segalanya kuniatkan untuk-Mu, ya Rabb.

Keesokan harinya, di tengah terik matahari yang menjemur padi depan rumah, dering handphone terdengar dari luar. Saat itu aku sedang menjemur pakaian.

Zed, kubaca tulisan dalam layar. Zed meneleponku. Aku angkat teleponnya setelah kedua kalinya dia menelpon. Dering pertama, aku masih belum siap untuk mengangkatnya.

“Assalamualaikum, Zed” tanyaku dengan nada lembut.

“Apa alasanmu terima bapakku?” tanyanya secara langsung tanpa menjawab salamku terlebih dahulu.

Nada pertanyaannya terdengar sedikit tinggi, tak seperti biasanya. Tak seperti nada suara yang biasanya kudengar saat dia bercerita tentang kehidupannya di Turki, atau saat dia bilang kalau abangnya tak merespon salamku, yang selalu dititipkan untuknya.

“Zed.”

Belum sempat kulanjutkan kalimatku. Ia langsung menerobos dan memotong perkataanku.

“Jawab, apa alasanmu terima bapakku? Apa maksudmu?”

“Tenang, Zed. Aku akan ceritakan semuanya. Tapi sebelumnya, aku ingin tahu, apa beliau izin songko awakmu?” tanyaku.

“Semalam itu bapak telpon aku sama abangku. Jare, bapak kepengen nikah lagi. Tahu sendiri kan kalau bapak kesepian setelah ditinggal ibu. Apalagi setelahnya nenekku, pakde, paklekku kan meninggal semua.”

“Aku yo awale seneng ae. Kan aku di Turki sekarang, jauh dari bapak. Abangku di sana tau sendiri. Dia kan pendiam, gak banyak berpendapat kayak aku. Bapak ki butuh teman ngobrol dan pengen ada yang jagain juga. Bapak juga bilang kalau memikirkan kesehatan, apalagi semakin tua.”

Kudengarkan semua ceritanya.

“Aku yo jawab to, ‘Yo ndang ae to pak’ aku ki ra tau karo sopo, ” sambungnya.

“Terus bapakmu ki jawab kalau ngelamar aku?” tanyaku penasaran.

Yo ndak. Bapakku ki jawab begini ‘Karo wong sing biasane gojlokan karo sampean,(yang biasanya ejek-ejekan dengan kamu) pikiranku langsung tertuju ambek awakmu to Zah Latifah,” jawabnya.

Jadi, selama ini beliau tahu kalau aku selalu ejek-ejekan dengan Zed ketika dia masih belum pergi ke Turki. Zed memang sering mengejekku karena aku selalu menitip salam untuk Mas Azzam. Dan satu-satunya orang yang Zed selalu ejek adalah aku.

“Sekarang jawab pertanyaanku tadi. Kenapa terima bapakku?”

Ketiga kalinya ia mengulang pertanyaan yang sama padaku.

Harus kujawab apa.

Tak tahu.

Bahkan sampai saat ini saja aku tak menyangka hal ini akan terjadi padaku. Akankah ia percaya kalau kujawab ini semua adalah takdir-Nya.

“Begini Zed. Aku istikarah. Bahkan aku tak langsung jawab ayahmu saat datang melamar. Kamu kan tahu siapa yang aku suka sekarang.”

“Aku minta tanda ke Allah, Zed. Dan setelah shalat istikarah itu, Allah kasih tanda yang sama antara aku dan beliau”

Panjang lebar kuceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Aku tak ingin ada prasangka buruk yang terlintas di pikirannya tentangku.

Setelah kujawab semua pertanyaan yang ia ajukan kepadaku, tak terdengar lagi suaranya. Rupanya ia langsung menutup telpon begitu saja tanpa ada salam penutup. (Zulfa/bersambung)