Kenapa Ya, Dia Berubah?

Pernahkah terpikir bahwa berteman dengan orang baru, ternyata lebih menyenangkan dari pada orang yang sudah kita kenal? Atau mungkin, seseorang pernah berkata, “Wah, mentang-mentang punya teman baru, teman lama dilupakan!”

Penulis :
Anggrayna Pradikma

Apakah kita yang sudah berubah jadi sombong? Atau jangan-jangan, mereka saja yang sudah tidak satu frekuensi dengan kita?

Untuk menanggapi fenomena ini, mari mengutip kalimat bijaksana dari Zig Ziglar, “Jangan nilai aku dari masa laluku, karena aku sudah tidak lagi tinggal di sana.”

Masa lalu bisa jadi hal yang indah atau mengerikan bagi setiap orang. Hal ini dikarenakan perspektif usang orang lain tentang diri kita di masa lalu, bisa kapan saja menjadi penjara yang memuakkan.

Sejatinya, tak ada yang pasti dan abadi di dunia ini. Setiap detik, kita pasti dan harus berubah. Mungkin saja, kita hari ini bukanlah kita yang dulu lagi. Apa yang kita pikirkan, nilai moral, dan pemahaman kita tentang dunia juga berubah.

Lalu, apa kaitannya hal tersebut dengan konteks hubungan antar manusia?

Coba bayangkan situasi saat kita bertemu orangtua teman lalu dicandai, “Tahu tidak, waktu kecil dulu, kamu pernah mengompol di rumah Tante?”

Mungkin contoh tersebut terlalu sepele. Namun, perhatikanlah di sekeliling kita, tidak sedikit orang-orang yang masih terjebak di masa lalu. Padahal lawan bicaranya sudah move on ke masa depan.

Hal ini tidak hanya berlaku untuk pengalaman negatif, namun, juga pengalaman positif. Banyak contoh individu yang mengakhiri hidupnya, disebabkan tidak mampu mengimbangi ekspektasi orang-orang tentang kejayaannya di masa lalu dengan realitanya saat ini.

Hal yang demikian sepele di mata kita, seperti pujian akan masa lalu, bisa menjadi toxic positivity yang menyiksa.

“Dulu usahamu sukses banget ya, tapi sekarang kok mentok begitu-begitu saja? Ayo dong usaha lagi biar sukses!”

Tidak semua orang dapat konsisten menjadi positif dalam hidupnya. Hal yang dulu kita kagumi dari mereka, mungkin saja, saat ini malah membuat kita kecewa.

Perlu diingat, bagaimana pun, orang itu hanyalah manusia biasa. Dia tidak memiliki kewajiban dalam hidupnya untuk memenuhi ekspektasi apapun dari kita, atau standar hidup dari manusia lain. Karena sekali lagi, manusia sangatlah dinamis.

Tapi, kok bisa ya, manusia berubah setiap waktu? Apa tidak bisa kita bahagia terus, sukses terus, atau imannya full terus?

Ternyata, fenomena ini sudah pernah dibahas oleh Matthieu Ricard dalam bukunya, Altruism. Menurutnya, sifat dasar kita, yang dihasilkan dari gabungan warisan genetik dan lingkungan tempat kita dibesarkan, hanya menjadi pondasi awal identitas kita.

Di sisi lain, masyarakat dan institusinya memiliki peran besar dalam memengaruhi dan mengondisikan seseorang. Namun, orang tersebut juga dapat membuat masyarakat berkembang dan mengubah institusinya. Karena interaksi ini berlanjut selama beberapa generasi, maka budaya dan individu saling membentuk satu sama lain.

Lebih lanjut, Ricard juga menjelaskan bahwa plastisitas otak memainkan peran besar dalam kapasitas seseorang untuk berubah. Salah satu penemuan terbesar dalam tiga puluh tahun terakhir adalah neuroplastisitas, yaitu sebuah istilah yang menjelaskan fakta bahwa otak terus berubah ketika seseorang dihadapkan pada situasi baru.

Secara sederhana, situasi dan pengalaman baru dapat menghubungkan atau memutus aktivitas neuron dalam otak manusia sehingga memungkinkan terjadi perubahan dalam kualitas hidupnya.

Maka, menjadi kesalahan besar apabila seseorang masih menilai orang lain hanya dari pengalaman di masa lalu. Karena struktur otak manusia selalu berubah setiap waktu dan begitu pula dengan kualitas hidup manusia tersebut.

Namun, tentu saja, sulit bagi kita untuk mengubah kebiasaan sok tahu dalam membuat kesimpulan mengenai orang lain. Rasanya mustahil kita mampu melepaskan pengalaman masa lalu saat berinteraksi dengan seseorang.

Meskipun begitu, seperti dilansir iuemag.com, Kunal Jain memberi tips dalam melatih pikiran kita, yaitu untuk membuat pengalaman dan kenangan masa lalu tentang seseorang menjadi sebuah bentuk observasi, bukan suatu kesimpulan.

Oleh karena itu, untuk menjalani hubungan yang selalu fresh dan bergairah, kita perlu memperlakukan setiap kenalan lama sebagai manusia baru seutuhnya.

Sangat indah apabila kita bisa menyingkirkan fragmen masa lalu tentang orang tersebut, lalu berfokus pada perubahan dalam konteks peningkatan kualitas diri sendiri.

Jadi, jangan ada lagi alasan untuk takut berubah, ya! Semangat! (Sahril)

Satu tanggapan untuk “Kenapa Ya, Dia Berubah?

  • 23 November 2021 pada 7:08 pm
    Permalink

    Kalimat “Kita perlu memperlakukan setiap kenalan lama sebagai manusia baru seutuhnya” menarik banget!!

Komentar ditutup.