Focus On What You Can Handle

Pernahkah kamu merasakan susah tidur di malam hari karena mengkhawatirkan suatu hal? Atau sering melamun karena memikirkan sesuatu?

Ada banyak faktor yang menyebabkan kita mengalami hal-hal seperti itu, salah satunya adalah berpikir berlebihan akan suatu hal atau overthinking. Hal ini sering kali datang dari hal-hal di sekitar kita, pengalaman-pengalaman buruk di masa lalu, atau pun kekhawatiran akan hal yang terjadi di masa depan.

Penulis :
Briliana Noor A.F.

Karena manusia adalah makhluk sosial, sudah pasti akan terlibat dengan banyak orang, lingkungan, dan juga problem-problem yang berkaitan dengan hal tersebut. Tapi, sering kali kita berpikir berlebihan terhadap hal-hal yang terjadi di sekitar kita.

Contohnya, ketika mendapat pengalaman buruk selama seharian beraktivitas, seperti terlambat mengerjakan tugas sehingga mendapat omelan dari dosen, atau  melihat orang yang kita suka bergandengan tangan dengan orang lain.

Bisa juga datang dari hal-hal di dunia maya, seperti mendapat hate comment dari sesama pengguna sosmed, atau melihat pencapaian dan hal-hal yang dimiliki orang lain di media maya dan masih banyak lagi.

Awalnya kekhawatiran ini dipicu oleh ingatan-ingatan kita pada suatu hal yang menjadi keluh-kesah yang mengganjal di pikiran. Lalu memunculkan kekhawatiran yang berlebih dan berkembang di dalam kepala. Akhirnya mengakibatkan kita menjadi sering melamun, tidak bersemangat, dan juga sering mengalami kesulitan tidur di malam hari.

Tentunya ini bukan hal yang baik ya!

Karena sejatinya semua permasalahan yang terjadi di sekitar kita tidak sepenuhnya berada di bawah kendali kita. Ada beberapa hal yang bisa kita atasi dan ada juga hal-hal yang tidak bisa kita atasi.

Begitu juga dengan kebahagiaan, rasa itu datang dari hal-hal yang bisa kita kontrol dan kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan kita terhadap hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.

Nah, solusinya adalah kita perlu untuk menerapkan konsepStokisme atau sering disebut dengan istilah Prinsip Dikotomi Kendali.

Apa itu Prinsip Dikotomi Kendali?

Prinsip Dikotomi Kendali merupakan salah satu konsep yang diajarkan dalam stokisme pada zaman Romawi kuno. Ilmu filsafat ini dicetuskan oleh salah satu filsuf bernama Zeno pada awal abad ke-3 M (https://iep.utm.edu/stoicis). Meskipun sudah jadul, prinsip Stokisme atau Dikotomi Kendali masih sangat relevan untuk diterapkan pada zaman sekarang.

Dikutip dari laman https://www.orionphilosophy.com bahwa, Dikotomi Kendali adalah praktik Stoa yang pada dasarnya menyatakan beberapa hal berada dalam kendali kita dan yang lain tidak. Prinsip Dikotomi Kendali ini mengelompokkan kondisi dan hal-hal yang kita hadapi berdasarkan kapasitas kita dalam mengatasi dan mengendalikannya, yaitu:

Hal yang pertama, yang bisa kita kendalikan adalah hal-hal yang berasal dari dalam diri kita. Atau sesuatu yang sudah built-in di pikiran, perasaan, dan tindakan kita. Seperti opini atau pendapat kita terhadap orang lain, perkataan, dan ucapan kita, kreatifitas, keinginan, tujuan dan juga respon kita terhadap orang lain.

Dan yang kedua, hal yang tidak bisa kita kendalikan adalah hal-hal yang berasal dari luar atau selain dari dalam diri kita, yang melibatkan kendali orang lain dan beberapa faktor luar yang tidak terhindarkan. Seperti kebahagiaan orang lain, pendapat orang lain, apa yang orang lain pikirkan, perasaan orang lain, apa yang orang lain katakan, begitu pun dengan waktu dan cuaca.

Wah berarti sedikit sekali ya, yang bisa kita kendalikan? Lalu bagaimana cara kita untuk menjalani hidup?

Memang banyak sekali hal yang tidak bisa kita kendalikan dalam hidup. Jangan khawatir, ada beberapa hal yang berada di luar kendali kita, tapi, masih bisa kita usahakan atau kita tingkatkan kemungkinan tercapainya.

Misalnya, usia dan kesehatan, bisa kita usahakan keberlangsungannya dengan cara menerapkan hidup sehat seperti rutin minum air putih, berolahraga, dan menghindari aktivitas merokok.

Jadi, ketika sudah mengetahui dan mampu menerapkan dua poin di atas, kita seharusnya lebih fokus terhadap hal-hal yang bisa kita kendalikan.

Terutama yang berada dalam diri kita dan berusaha untuk tidak berlebihan dalam mengkhawatirkan hal-hal yang berada di luar diri kita, seperti perkataan atau tindakan orang lain terhadap kita. Sebab hal ini pastinya hanya akan menguras tenaga dan energi.

Dengan mencoba bodo amat terhadap perlakuan orang lain, maka kita bisa  terhindar dari rasa khawatir yang berlebihan dan overthinking. Karena, jika kita terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang tidak bisa kita kontrol, itu termasuk tindakan yang tidak rasional dan melawan hukum alam.

JB Suharjo B. Cahyono dalam buku Membangun di Atas Batu mengungkapkan prinsip kalangan Stoa, bahwa bukan apa yang terjadi pada diri kita, melainkan bagaimana kita bereaksi terhadap peristiwa tersebut, itulah persoalannya.

Jadi, kita cukup berusaha semaksimal mungkin dengan apa yang bisa kita kendalikan dan berusaha santai dan tidak terlalu memikirkan hal-hal di luar kendali kita. (Sahril)