Pengangguran Intelektual Tanggung Jawab Siapa?

Salah satu masalah utama yang dihadapi negara tercinta kita adalah pengangguran. Tingkat pengangguran yang tinggi memiliki efek langsung atau tidak langsung pada peningkatan kemiskinan, kejahatan, dan masalah sosial politik. Masalah pengangguran telah menjadi momok yang mengerikan, terutama di negara berkembang seperti Indonesia.

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menemukan jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8, 75 juta. Terdapat 59, 62 juta pekerja tidak tetap yang sebagian besar berpendidikan SD ke bawah atau sekitar 40, 38%. 

Namun tingkat pengangguran tertinggi adalah pendidikan SMK (11, 45%), disusul SMA  8, 55%, universitas 6, 97%, diploma 6,61%. Meski tingkat pengangguran untuk tamatan SMP  hanya 5, 87%, SD hanya 3, 13%.

Juaini Harmaen

Pengangguran intelektual atau terdidik adalah salah satu dari sekian banyak masalah yang belum  terpecahkan di negeri ini. Pandangan bahwa strata pendidikan menentukan kualitas hidup manusia tidak lagi dibanggakan seperti pada masa-masa dulu.

 Sarjana saat itu sedikit, tidak sebanyak sekarang. Masalah strategis yang hanya muncul setelah orang mengetahuinya adalah bahwa tingkat pengangguran pendidikan tidak lagi rendah.

Kita bisa membayangkan betapa sulitnya anak-anak muda dengan pendidikan tinggi mendapatkan lowongan kerja, di tengah persaingan kompetisi untuk memasuki pasar kerja yang layak sesuai dengan bidang akademik mereka.

 Dikutip dari buku berjudul Intelegensia Muslim Dan Kuasa karangan Yudi Latif menyatakan, ancaman pengangguran dari kaum terdidik akan lebih berbahaya yang berasal dari perguruan tinggi swasta non-elit. Sebab, selain mereka mengeluarkan biaya yang lebih banyak dari pada mahasiswa yang di universitas negeri, namun para lulusan termarginalkan di pasar kerja. 

Padahal, secara melek politik mereka lebih sadar, tetapi tersisihkan secara ekonomi. Ketimpangan yang diterima pengangguran intelektual tersebut merupakan bom waktu, yang akan memunculkan kerusuhan-kerusuhan sosial dan politik di masa depan. 

Perubahan dan perbaikan konsep pendidikan merupakan keniscayaan bagi lembaga pendidikan tinggi, yang menjadi tolok ukur agar pendidikan tinggi tetap diminati para calon mahasiswa, tanpa mengabaikan manajemen yang baik dan tepat. 

Penyebab lainnya pengangguran dikarenakan tidak seimbangnya jumlah penduduk dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Pada dasarnya, peningkatan jumlah penduduk memiliki dua sisi yang berbeda. 

Dikutip dari buku Peran Sektor Informal Dalam Menanggulangi Masalah Pengangguran Di Indonesia karangan Wahyuni menjelaskan, di satu sisi jumlah penduduk yang besar merupakan modal pencapaian tujuan pembangunan, tetapi di sisi lain, dengan pengaturan yang tidak tepat, jumlah penduduk yang besar dapat menimbulkan masalah penduduk yang sangat krusial di bidang ketenagakerjaan.

Jadi kesimpulannya adalah pemerintah harus memberikan penyuluhan, pembinaan dan pelatihan kerja kepada mahasiswa. Agar mereka bisa menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Tentunya sesuai dengan kemampuan dan minatnya masing-masing, untuk mengembangkan kompetensi kerja guna meningkatkan kemampuan, produktifitas dan kesejahteraan.

Lalu ditambah peran civitas akademika kampus bukan hanya mendidik akademis di kampus, tetapi juga ikut handil dalam menciptakan lapangan perkerjaan, dalam hal ilmu dan skill yang diperlukan nantinya. 

Keterlibatan pihak industri juga harus berpartisipasi dan berkolaborasi dengan semua pihak agar lapangan kerja terbuka seluas-luasnya.

Kemudian juga perlu didukung dari individu para intelektual muda untuk terus menerus berinovasi dan kreatif dalam mengembangkan kemampuannya. Sehingga bukan mencari perkerjaan tetapi justru menciptakan perkerjaan yang mampu mendobrak perekonomian Indonesia dan mensejahterakan masyarakat.

Dengan adanya kerjasama dari semua pihak, pengangguran di Indonesia akan segera berkurang. Semua itu adalah harapan kita semua, agar seluruh rakyat Indonesia mendapatkan kesejahteraan sebagaimana tertuang di UUD 1945 dan Pancasila. (Nuur)