Menghadiri Undangan Pernikahan, Kok Ada Tradisi Mengusir Roh Jahat?

Menyaksikan acara pernikahan itu amat penting lho! Bukan, bukan demi mencari makan-makan gratis. Melainkan dari tradisi pernikahan itu banyak ditemukan keunikan budaya.

Farrasa Uswatun Hasanah

Sudah dapat ditebak dong? Iya, kami pun berusaha sekuat tenaga agar dapat menghadiri acara pernikahan India. 

Tidak gampang sih. Karena tidak bisa tiba-tiba saja kita hadir di kondangan orang. Memangnya mau jadi tamu tak diundang he he he. 

Apalagi dengan raut muka kami yang begini khas dan kentara banget bedanya sama rata-rata orang India, maka kehadiran kami akan amat mencolok dan menimbulkan tanda tanya, mana undangannya mbak atau mas?

Tetapi kami belum menyerah, setidaknya pernah deh sekali menghadiri pernikahan India nan semarak itu.

India adalah salah satu negara yang memiliki budaya atau adat istiadat yang kental dan masih setia digunakan sampai saat ini. Adat istiadat mereka selalu membuat kami penasaran karena teramat banyak upacara atau ritual yang dilakukan hampir setiap harinya. 

Selain acara keagamaan seperti Diwali,  atau acara seperti Holi yang selalu meriah setiap tahunnya, upacara pernikahan orang India yang Hindu bahkan muslim pun sangat menarik. Mereka mempunyai rangkaian prosesi pernikahan yang sedikit lebih rumit dibandingkan dengan Indonesia.

Salah satu keinginan kami sebelum pulang ke Indonesia yaitu ingin menghadiri acara pernikahan orang India. Tetapi setelah pandemi datang sepertinya keinginan kami tidak akan pernah terwujud. Dan kami hanya bisa ikhlas. Mau bagaimana lagi? Harapan sepertinya hanya tinggal mimpi.

Sementara itu kami melihat teman-teman, beberapa dari mereka sudah menghadiri acara pernikahan orang India. Dan kami melihat kegiatan tersebut hanya melalui status WhatsApp. 

Pada saat itu mulai kembali bersemi harapan agar bisa menghadiri acara pernikahan orang India. Sampai Farrasa berdoa, “Ya Allah, semoga teman sekelasku ada yang menikah sebelum aku pulang.”

He he he… 

Doanya syahdu ya!

Mendoakan teman segera menikah lho!

          Tak disangka, di semester 6 doa itu dikabulkan Allah. Begini penuturan Farrasa:

Lagi-lagi Allah Maha Baik. Aku mendapat undangan dari teman yang sebenarnya tidak terlalu dekat. Dan perasaanku saat itu benar-benar exited untuk menghadiri acara tersebut. 

Setelah melontarkan beberapa pertanyaan, seperti dress code, acaranya seperti apa, alamat rumah dan lain-lain, akhirnya aku mulai mempersiapkan semuanya sebelum mendatangi acara tersebut. 

Eh tunggu dulu! Tetapi undangan yang teman kirimkan adalah undangan untuk menghadiri rangkaian acara pra nikahnya. Namanya tradisinya adalah Haldee.

Ya tak apa-apalah! Haldee juga seru kabarnya. 

Sebelum menghadiri acara, aku juga bertanya dengan salah satu teman dekat asli India tentang tradisi Haldee. Jadi katanya Haldee adalah salah satu rangkaian acara yang mempunyai makna untuk mengusir roh jahat atau hal-hal buruk, yang bisa menimpa kepada pengantin, atau bisa disimpulkan menjadi “pembersih sebelum menikah.”

Aduh! 

Roh-roh? 

Kok terdengar asyik ya?

Tradisi Haldee ini biasanya hanya dihadiri kerabat dan keluarga dekat dan khusus untuk perempuan. 

Duh, makin seru nih!

Tradisi Haldee ini menggunakan pasta kunyit dan komposisinya menggunakan kunyit bubuk, air mawar atau susu yang dicampur. 

Setelah hari Haldee tiba, aku berangkat sekitar jam 5 sore karena memang acaranya dilaksanakan sore hari. Aku ketemuan dulu sama teman bernama Rida di gerbang belakang kampus, karena memang rumahnya tidak terlalu jauh dari kampus. 

Setelah sampai di rumahnya, aku disambut baik oleh keluarganya dan disuguhkan minuman. Dan kebiasaan orang India ini selalu menyuguhkan soda atau es krim saat musim panas, jadi tidak ada teh manis atau teh rasa mangga he…he… 

Setelah menunggu beberapa saat akhirnya temanku keluar kamar dan sudah rapi dengan dress cantik yang didominasi warna merah dan kuning. Karena memang warna yang biasanya digunakan untuk upacara Haldee adalah warna merah, kuning dan hijau. Karena warna-warna tersebut memiliki makna yang positif untuk sebuah tradisi pranikah.  

Setelah satu jam menunggu acara masih belum dimulai,  karena memang masih menunggu kerabat yang lain. Akhirnya acara dibuka, langkah pertama dimulai dengan lagu-lagu yang bermakna tentang perpisahan antara orangtua dan anak yang akan berpisah ketika sudah menikah.

Setelah itu dilanjut dengan setiap orang memakaikan pasta kunyit kepada calon pengantin di bagian manapun bisa di wajah, tangan, atau kaki. Kemudian calon pengantin dibawa ke ruang tamu tetapi saat digiring calon pengantin didampingi oleh teman atau kerabat dekatnya dan dipakaikan kain atasnya yang berwarna kuning. 

Setelah dibawa ke ruang tamu barulah dilanjutkan sesi foto bersama dengan kerabat dan keluarga. Dan acara tersebut benar-benar tidak dihadiri oleh laki-laki. Setelah selesai foto-foto aku dan teman-teman disuguhkan Chicken Korma dan roti, minumannya soda dan hidangan penutupnya ada es krim. 

Sehabis makan malam selesai dilanjutkan dengan hiburan yang dilakukan oleh keluarga dan teman dekatnya. Hiburannya adalah beberapa teman dan keluarga akan joget bersama untuk memeriahkan acara.  

Acara demi acara dilakukan akhirnya tepat jam 8 malam semuanya selesai dan aku pun pulang. Dan pengalaman kali ini sangat berkesan karena harapan yang aku inginkan bisa terwujud. (Farrasa)