Problematika Cinta Beda Agama; Bagaimana Islam Memandangnya?

Di era globalisasi saat ini, dengan kecanggihan teknologinya, dunia seakan-akan berada dalam genggaman. Majunya transportasi dan teknologi informasi, memudahkan manusia untuk saling berinteraksi satu sama lain, menembus batas-batas jarak dan budaya. Dengan demikian, kemajemukan adalah keniscayaan yang tak dapat dihindari.

Ikrom Mausuli

Kemajukan tersebut memaksa manusia untuk saling berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda, mulai dari agama, budaya, suku, ras, hingga bangsa. Tak jarang dari interaksi itu lahirlah rasa saling mencintai.

Dalam ikatan cinta, perbedaan latar belakang memanglah hal yang amat sulit untuk dihindari. Hal ini menjadi sebuah problem dalam keberlangsungan sebuah ikatan. Ada batas-batas norma dan budaya yang harus dilewati. Tersebab tak setiap agama, suku, atau pun budaya mengafirmasi ikatan cinta dengan latar belakang yang berbeda. Agama Islam misalnya.

Islam sebagai agama yang mengatur seluruh kehidupan manusia mulai dari bangun hingga tidur kembali, tak luput memberikan aturan yang ketat terkait pernikahan. 

Di antaranya ialah pelarangan bagi wanita muslimah untuk menikah dengan pria non-muslim. Adapun pria muslim boleh menikahi wanita non-muslimah. Namun wanita non-muslimah yang boleh dinikahi hanyalah mereka yang berasal dari golongan Ahli Kitab.

Hal ini berdasarkan firman Allah Swt. dalam surat Al-Baqarah ayat 221, yang artinya, “Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu…

Dan di surat An-Nisa ayat 5 Allah Swt. berfirman, yang artinya, “… (Dan dihalalkan menikahi) wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al-Kitab sebelum kamu…

Dari kedua ayat ini, jumhur ulama membolehkan seorang pria muslim menikahi wanita Ahli Kitab, yakni orang-orang Yahudi dan Nasrani dengan persyaratan yang ketat. Orang-orang Ahli Kitab yang boleh dinikahi disyaratkan jelas nasabnya. Artinya, mereka berasal dari keturunan yang memang berasal dari golongan Yahudi dan Nasrani. 

Bukan orang-orang yang sebelumnya beragama Majusi atau pun penganut politeisme dan baru menganut agama Nasrani atau pun Yahudi. Kemudian ajarannya juga masih murni, yakni menyembah Tuhan yang satu, Allah Swt.  Hal ini sebagaimana yang disebutkan dalam komentar Imam Qalyubi terhadap kitab Syarh Al-Mahalli ‘Ala Minhaj At-Thalibin

Dalam konteks umat modern saat ini khususnya Indonesia, hal ini amat sulit untuk dijalankan. Sebab pertama, kemurnian ajaran Nasrani sudah termodifikasi. Kedua, asal-usul umat Nasrani di Indonesia berasal dari pengaruh penyebaran bangsa Eropa. Dengan kata lain, silsilah nasabnya menjadi kabur dan tidak berasal dari keturunan Yahudi atau Nasrani yang sebagaimana dimaksud dalam penjelasan di atas.

Terlebih lagi Indonesia telah mentapkan UU No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan Pasal 2 Ayat 1 yang menyatakan, “Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu.” 

Demikianlah, betapa ketatnya agama Islam dalam mengatur kehidupan umatnya hingga dalam masalah pernikahan. Tidak lain untuk menjaga kemurnian akidah yang dianutnya. Jangan sampai iman tergadaikan sebab hanya karena masalah percintaan.

Maka bagi kita yang sedang menjalani hubungan asmara dengan lawan jenis yang berbeda agama, bisa melakukan dialog interaktif terlebih dahulu. Mulai dari masing-masing individu. Jelaskan pandangan agama masing-masing mengenai pernikahan terlebih dahulu dan apa saja konsekuensinya. 

Sehingga nantinya tidak ada pihak yang merasa diragukan apalagi dirugikan. Percayalah bahwa hubungan akan berjalan lebih indah apabila dimulai dari sebuah kejujuran dan keterbukaan masing-masing pihak. 

Setelah masing-masing individu memberikan keterbukaan, bisa melakukan dialog antar keluarga kedua belah pihak. Sebab pernikahan bukan hanya permasalahan bagi individu yang menjalankan, namun juga keluarga besar masing-masing pihak ikut terlibat. Supaya ketika ada satu masalah, masing-masing dapat mengerti dan tidak ada kesalahpahaman yang akan timbul nantinya.

Bisa juga melakukan konsultasi kepada ahli agama yang memang memiliki kredibilitas dalam bidang ini. Bagaimana sebaiknya hubungan ini terus berlanjut. Apakah di antara kedua belah pihak harus ada yang mengalah, ataukah keduanya harus saling berpisah. 

Namun satu hal yang perlu diingat! Bahwa apapun yang terjadi ke depannya, yakinlah bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untukmu. (Farrasa)