Satu Tahun Pandemi, Apa yang Sudah Kita Pelajari?

Manusia nyaris putus harapannya ketika Covid-19 telah menyebar begitu cepat di muka bumi. Seolah-olah desiran angin yang lembut, tak lagi terasa berhembus menerpa kulit. 

Covid-19 ini seolah sosok yang telah membuat kehidupan tak bisa bergerak sebagai manusia yang selayaknya makhluk sosial. Semua kandas menjadi manusia yang hanya mengurung diri dalam rumah. 

Aditya Muhammad Reza

Bagi kita sebelumnya bekerja siang dan malam, atau bahkan hari libur pun dipakai untuk mengurus berbagai pekerjaan yang belum terselesaikan. Mungkin inilah saatnya di masa pandemi ini untuk kita rehat sejenak. 

Kita mulai memikirkan untuk apa bekerja sekeras dan selama itu. Kita melupakan kebahagiaan yang selama ini tertutupi oleh pekerjaan. Kita bisa bahagia di keluarga kecil untuk saling bercengkrama.

Pandemi ini mengajarkan banyak waktu yang didapat ketika di rumah, yang mesti dimaksimalkan dengan mengetahui perkembangan anggota keluarga lainnya yang seringkali terlupa. 

Bagi orangtua, ketika bekerja menghabiskan waktu seharian, dan jarang sekali menanyakan perkembangan anaknya di sekolah. Bagaimana mereka belajar atau permasalahan apa yang sedang dihadapi. Pandemi ini menjadi ajang saling bertukar pikiran dengan mereka. 

Mungkin inilah waktu yang tepat untuk memikirkan apa yang kita rencanakan untuk menggapai masa depan. Untuk apa kita belajar bila tidak dilandasi kebermanfaatan ilmu. 

Kita jangan terlupa! Jangan sampai ilmu yang kita dapat hanya menjadi rasa angkuh, demi merasa populer di depan khalayak ramai. 

Seringkali kita tersibukkan dengan belajar yang sangat rajin ketika sekolah. Pagi hingga siang kita menuntut ilmu dan dilanjutkan dengan les. Demikianlah kegiatan padat ketika sebelum pandemi. 

Namun hal ini hilang ketika semua berubah dengan sistem online yang sering kita gunakan setiap hari. Meskipun online ini belum dirasa menyamai serunya kelas secara langsung. Namun hal ini ada hikmahnya ketika kita berpikir, “Apakah aku belajar selama ini benar?” 

Pandemi yang berkepanjangan ini menjadi rehat sekaligus evaluasi bagi kita untuk melompat lebih jauh. Bukankah dalam pertandingan sepakbola ada yang namanya half-time. Bagaimana rasanya pesepakbola bermain secara penuh 90 menit tanpa adanya istirahat. Bukannya menjemukan dan melelahkan?

Memang ada pentingnya half-time bagi kedua kesebelasan selain untuk istirahat. Pelatih seringkali mengevaluasi pemainnya yang kurang berkontribusi bagi tim. Dan ini menjadi lecutan bagi mereka agar menjadi lebih baik. Sama halnya diri kita sebagai pelajar yang perlu adanya break setelah kita belajar yang sangat lama.

Selain itu, dalam pandemi yang belum tentu kapan usai ini, kita seringkali memiliki waktu yang sangat banyak. Bagi sebagian orang dengan aktivitas yang sangat sibuk dan secara tiba-tiba tidak memiliki kegiatan, akan merasakan keanehan pada dirinya dan merasa pandemi ini menjadi masalah. Namun ketahuilah bahwa waktu luang salah satu nikmat yang diberikan Tuhan. 

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin dalam buku Syarah Shahih Al-Bukhari telah mengutip hadis bahwa Nabi Muhammad bersabda, “Dua nikmat yang terlalaikan oleh banyak orang; sehat dan waktu luang.”

Banyak kegiatan yang bisa dilakukan, yang sebelumnya kita tidak akan memikirkannya ketika sibuk. Kita mungkin melupakan hobi yang sering kita lakukan hanya pada weekend dan itu terbatas karena desakan pekerjaan. Kita mulai bisa membaca buku atau majalah terkini. 

Semua tentang pandemi bukan mengenai musibah yang kita alami, namun banyak hikmah yang kita dapat. Waktu kosong yang kita dapat ketika pandemi jangan dibiarkan hilang begitu saja. 

Nasihat Aidh Al-Qarni dalam bukunya yang berjudul La Tahzan menyebutkan bahwa mengibaratkan waktu yang kosong adalah petaka. Dikatakan bahwa, “Bunuhlah setiap waktu kosong dengan ‘pisau’ kesibukan! Dengan cara itu, dokter-dokter dunia akan berani menjamin bahwa Anda telah mencapai 50% dari kebahagiaan.”

“Lihatlah para petani, nelayan, dan para kuli bangunan! Mereka dengan ceria mendendangkan lagu-lagu seperti burung-burung di alam bebas. Mereka tidak seperti Anda yang tidur di atas ranjang empuk, tetapi selalu gelisah dan menyeka air mata kesedihan,”

Maka maksimalkanlah waktu yang diberikan pada saat ini. Waktu luang yang sangat berharga, tidak semua orang mendapatkannya secara gratis. Banyak dari kita lupa akan pentingnya waktu luang yang diberikan Allah. Sungguh waktu luang adalah kenikmatan yang luar biasa untuk kita rasakan dan syukuri dalam pandemi ini. (Zulfa)