5 Cara Menentukan Hal-hal yang Harus Didahulukan Dalam Hidup

Apa sih hal yang paling penting di dalam hidup ini? Manakah hal yang harus didahulukan? Dan bagaimana kita mengetahui apakah sesuatu itu harus didahulukan atau diakhirkan?

penulis :
Aliy Rahman

Sebagai seorang manusia seringkali kita dihadapkan dengan begitu banyak pilihan yang sangat membingungkan. Baik pilihan itu berupa kegiatan, barang, pekerjaan, sampai dalam hal jodoh, dan lain sebagainya.

Bahkan karena bingungnya, justru seseorang terkadang  malah kehilangan semua pilihan tersebut karena terlalu lama berpikir.

Benar memang hidup ini adalah pilihan. Karena pilihan itu juga sebagian dari ikhtiar manusia yang dianugerahkan Allah kepada hamba-Nya.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an, surat Ar-Ra’d ayat 11, yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Walaupun demikian, seseorang harus pandai-pandai memilah dan memilih, manakah hal-hal yang harus didahulukan ataupun diakhirkan, antara satu dengan yang lain.

Karena darinya, semua hal yang dilakukan akan lebih bermakna dan tersistem secara rapi. Sehingga terhindar untuk melakukan sesuatu yang terkesan amburadul.

Para ulama sejak lama telah membuat sebuah tatanan khusus dalam hal ini. Dan yang biasa disebut dengan istilah asbab at-taqaddum, yaitu sebab-sebab sesuatu itu didahulukan.

Sebagaimana dijelaskan oleh Badruddin Az-Zarkasyi dalam kitab Luqthatul Ajlan, bahwa sebab-sebab sesuatu didahulukan dari yang lain itu ada lima, yaitu:

Pertama, at-taqaddum bi az-zaman, yaitu mendahulukan sesuatu karena hal tersebut, secara dari segi waktu ada lebih dahulu. Contohnya adalah didahulukannya bapak atas anak. Bapak didahulukan karena lebih dahulu ada daripada anaknya.

Kedua, at-taqaddum bi al-‘illah, yaitu mendahulukan sesuatu karena alasan sebab akibat. Contohnya adalah didahulukannya terbit matahari atas munculnya siang. Terbitnya matahari didahulukan karena dia menjadi sebab munculnya siang.

Ketiga, at-taqaddum bi at-thabi’, yaitu mendahulukan sesuatu karena tabiat aslinya. Contohnya adalah didahulukannya angka satu atas angka dua. Angka satu didahulukan karena memang tabiatnya pasti ada lebih awal dari pada angka dua.

Keempat, at-taqaddum bi ar-rutbah, yaitu mendahulukan sesuatu dengan menyesuaikan urutannya. Contohnya adalah mendahulukan huruf A atas huruf B. Huruf A didahulukan karena secara urutan lebih awal dari pada B.

Kelima, at-taqaddum bi as-syaraf, yaitu mendahulukan sesuatu yang lebih mulia dari yang lain. Contohnya adalah didahulukannya guru atas murid. Guru didahulukan daripada murid karena guru lebih mulia dari muridnya.

Para ulama berpedoman kuat pada kelima asbab at-taqaddum tersebut dalam berbagai hal, di antaranya adalah ketika mereka menuliskan karangan mereka.

Misalnya dalam bidang ilmu fikih, pasti mereka menempatkan pembahasan ibadah terlebih dahulu dibandingkan muamalah. Tentu ini karena ibadah lebih dahulu dari segi as-syaraf (kemuliaan) dibandingkan muamalah.

Dari sini tentu kita juga bisa menerapkan pembahasan ini dalam berbagai urusan. Di antara contohnya adalah ketika kita sedang bingung saat akan berangkat kuliah dan belum sarapan. Apakah kita mendahulukan sarapan atau berangkat tanpa sarapan?

Maka jika kita terapkan dalam kaidah asbab at-taqaddum, tentu kita akan memilih sarapan dahulu, daripada langsung berangkat kuliah. Karena sarapan didahulukan dari segi al-‘illah (sebab akibat). Hal ini karena melalui sarapan, tentu akan mendukung kelancaran semua kegiatan kita di perkuliahan.

Jadi sarapan merupakan sebab, dan kelancaran kegiatan di perkuliahan menjadi akibat baik dari sarapan. Dengan demikian maka penerapan ini sesuai dengan at-taqaddum bi al-‘illah.

Dari sini tampak jelas, begitu pentingnya kaidah yang diajarkan ulama kepada kita. Karena semua yang mereka ajarkan, tentu telah lulus dari uji percobaan dan penelitian mereka yang tentunya sesuai dengan ajaran Al-Qur’an dan sunah. (Zulfa)