Kamu Cuma Capek Saja Kok!

Dalam proses perjuangan yang sedang kita jalani, adakalanya kita akan merasa letih, sedih, dan malas, yang bahkan kita tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita sendiri? Istilah perasaan yang tidak menentu begini adalah burnout. Kira-kira apa Anda pernah di posisi ini?

penulis :
Bintang Astiana

Sebenarnya istilah burnout telah lama diperkenalkan oleh seorang ahli psikologi yang berasal dari New York, yaitu Herbert Freudenberger pada tahun 1974. Di dalam bukunya, Freudenberger menggambarkan burnout pada manusia sama halnya dengan suatu bangunan.

Pada awalnya berdiri kokoh dengan berbagai kegiatan yang dilakukan di dalamnya. Namun ketika mengalami kebakaran hanya terlihat kerangka luarnya saja. Sama halnya dengan manusia ketika mendapat hantaman akan mengalami kelelahan yang terlihat utuh di luarnya, namun di dalamnya kosong dan mengalami masalah.

Dikutip dari laman www.healthline.com menyebutkan, bahwa 3 dari 12 fase sindrom burnout ini yang biasa terjadi pada anak muda menurut Herbert Freudenberger dan Gail North, yaitu:

Pertama, dorongan atau ambisi yang berlebihan. Umum bagi orang yang memulai pekerjaan baru atau melakukan tugas baru, terlalu banyak ambisi dapat menyebabkan kelelahan.

Kedua, mendorong diri sendiri untuk bekerja lebih keras. Ambisi mendorong Anda untuk bekerja lebih keras.

Ketiga, mengabaikan kebutuhan Anda sendiri. Anda mulai mengorbankan perawatan diri seperti tidur, olahraga, dan makan dengan baik.

Banyak dari kita belum mengenali emosi yang sedang dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi anak muda yang sedang di fase pencarian jati dirinya.

Kadang-kadang semangatnya so powerfull. Eh, tiba-tiba down cuma karena dijudge, atau menonton video yang bikin insecure, atau bahkan terlalu lama bersantai akhirnya mood jadi malas terus.

Baiknya kita tidak boleh terlalu larut dalam zona nyaman itu. Kita harus merancang goals kita dari sekarang.

Bagaimana caranya agar kita senantiasa istikamah dalam proses perjuangan ini?

Dikutip dari buku yang berjudul The Way to Win karangan Solikhin Abu Izzudin menjelaskan, bahwa sukses membuat saya selalu semangat lagi ketika tanda-tanda burnout mulai menghampiri. Jadi, konsep diri terbagi menjadi 3, yaitu motivasi diri sebagai bahan bakar pembangkit, percaya diri sebagai gas untuk kita melangkah dan tahu diri sebagai rem pengendali.

Jika sudah melaksanakan 3 konsep ini kita tetap saja burnout, apa yang harus kita lakukan?

Maka ingatlah bahwa Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 286, yang artinya, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.

Ingat lagi goals kita, ingat muka kedua orangtua, dan ingat bahwasanya hidup ini tidak hanya tentang prestasi apa yang telah kita raih, berapa besar gaji kita, melainkan hidup ini tentang ibadah pada Allah dan bermanfaat bagi orang lain.

Seperti pohon, semakin menjulang tinggi semakin besar angin yang menerpa. Justru jika kita tidak mendapat masalah, maka berhati-hatilah. Bisa jadi Allah tidak lagi mempercayaimu memecahkan suatu masalah.

Seperti pisau yang semakin diasah semakin tajam, maka begitulah juga diri kita. Jadi, kalau kita mulai burnout mungkin diri kita yang lagi capek saja, that’s okay!

Istirahat sejenak dan mulai bermuhasabah sambil menyusun lagi strategi.

Last but not least, iringi perjuangan kamu dengan DUIT (doa, usaha, ikhtiar, dan tawakal). Karena berjuang saja tidak cukup dan berdoa saja juga tidak akan tercapai maka buatlah menjadi balance.

Tak apa sulit, karena dengan kesulitan itu kita akan lebih menghargai sesuatu, karena kita tahu proses dalam mendapatkannya. Tak apa capek, setiap keringat perjuangan kita akan terhitung pahala. Semangatlah, karena kita terlalu luar biasa untuk menjadi yang biasa-biasa saja. (Zulfa)