Catcalling, Karena Kamu Bukan Kucing

Mungkin kita tidak asing lagi dengan sebutan catcalling, di mana akhir-akhir ini menjadi cukup memengaruhi terhadap kehidupan perempuan.

Penulis :
Nur Fathia Andina

Pada umumnya, catcalling terjadi pada perempuan oleh pelakunya laki–laki, individual maupun berkelompok. Sebelumnya kita bahas dulu apa yang dimaksud dengan catcalling.

Catcalling ini bisa berupa pujian, gombalan, atau pelontaran kata-kata kepada seseorang di tempat umum. Biasanya kucing sih yang sering dipanggil-panggil atau digoda. Akan tetapi bagaimana jadinya kalau ditujukan kepada perempuan?

Mungkin kamu sering menemukan contoh atau bahkan pernah mengalami kata-kata seperti begini:

“Eh Neng, cantik banget, mau kemana?”

“Sini Abang temenin!”

“Hai cewek, boleh kenalan gak?”

Itu merupakan beberapa contoh yang sering kita temui, dan masih banyak lagi contoh lainnya bahkan lebih parah. Dan catcalling yang paling parah itu dengan menyebut fisik perempuan. Itu tergolong pelecehan, lho!

Sayangnya, catcalling masih dianggap sebagai hal remeh dan dianggap candaan atau pujian. Padahal tidaklah demikian yang dirasakan dan ditanggung korban.

Lilyht dalam buku Perawan Yang Tergadai menyebutkan, stigma tradisional di masyarakat memberikan pemakluman mengenai adanya fenomena catcalling sebagai hal yang lumrah, ditambah kurangnya edukasi tentang sexual harrasment, padahal bisa berdampak buruk pada psikologis korbannya.

Sejatinya catcalling memiliki dampak buruk, seperti korban akan merasa risih, merasa malu, merasa takut, merasa tidak dihargai, merasa cemas, rendah diri, depresi, bahkan korban menganggap buruk terhadap tubuhnya sendiri.

Pada buku berjudul Ikat: Bersama, Kami Lampaui Segalanya, maka Ikanxepat menyebutkan, catcalling termasuk pelecehan dalam bentuk verbal. Catcalling tidak hanya membuat korban tidak nyaman ketika kejadian berlangsung, tapi juga akan membekas di dalam hati dan pikiran, menciptakan trauma bagi korban. 

Kasihan kan kalau perempuan yang dilecehkan secara catcalling itu menangis semalaman karena dilecehkan dengan kata-kata.

Lalu, hal apa yang bisa kita lakukan ketika mengalami catcalling?

Bagi perempuan, ya kita harus berani mengungkapkan perasaan tidak suka dengan catcalling. Bahkan, perempuan perlu tegas menolak apapun bentuk catcalling.

Orang-orang perlu memahami prilaku catcalling itu tidak baik, meskipun tujuannya iseng atau menggoda, tetap saja catcalling harus dihentikan. Edukasi tentang bahaya catcalling perlu digalakkan sedari sekarang. (RN)