Introspeksi Diri dan Menyalahkan Diri, Apa Bedanya?

Sarah (nama samaran) tengah menghadapi ujian masuk perguruan tinggi. Sebelum itu, dia sudah jauh-jauh hari belajar keras dan mempersiapkan segala hal. Apa daya skor yang dia dapat tidak memenuhi persyaratan untuk masuk perguruan tinggi negeri yang diinginkan.

Alhasil Sarah menyalahkan diri dan merasa tidak mampu. Karena dia tidak berusaha maksimal yang berujung pada perasaan-perasaan negatif seperti insecure, menyerah sehingga tidak mau berusaha lagi.

Salsha Nur Adha

Mungkin akan beda cerita jika Sarah melakukan introspeksi diri. Dia tetap merenungi kekurangannya, tetapi menjadikan itu sebagai bahan untuk mengambil langkah yang lebih baik dan berhati-hati atas pilihan yang akan dia lakukan.

Bahkan dia mencari jalan baru yang dirasa cocok untuknya. Misalnya, dia memilih cara lain untuk masuk perguruan tinggi atau malah berputar arah jadi ingin kuliah ke luar negeri. Semua itu mungkin dilakukannya jika ada kemauan dan terus berusaha sebaik mungkin.

Hal ini membuktikan tidak sedikit orang yang menyalahartikan introspeksi diri yang berujung pada menyalahkan diri. Keduanya memang merupakan proses menemukan kesalahan dan kekurangan dalam diri, tetapi sikap atas kesalahan yang telah kita temukan itu yang berbeda.

Mengutip dari buku Sukses Jadi Profesional karangan Eileen Rahman menyatakan, bahwa individu yang tumbuh tanpa kegiatan introspeksi apalagi self talk bisa saja sepanjang hidupnya tidak ada kegiatan menyalahkan diri, mendera, dan menguatkan diri sendiri yang tuntas.

Hal ini berarti bahwa sepanjang hidupnya manusia pasti pernah berbuat salah dan ada hari di mana manusia merenung atas kesalahan (introspeksi). Masalahnya tidak perlu berlarut-larut hingga berpikir tentang kesalahan yang tidak ada ujungnya yang menyebabkan tidak produktif dan berkurangnya pengembangan diri.

Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), introspeksi sendiri mempunyai arti peninjauan atau koreksi terhadap perbuatan, sikap, kelemahan, kesalahan, dan sebagainya atau mawas diri.

Juga mengutip dari buku Kiprah Kyai Entrepreneur: Sebuah Pembaharuan Dunia Pesantren di Banten karangan Ahmad Rifa’i Arief menyatakan, bahwa intropeksi diri merupakan langkah yang efektif dan positif dalam mencari dan menggapai jalan hidup yang efisien dan produktif, guna memberi manfaat yang lebih banyak bagi kehidupan dirinya dan orang lain.

Pemahaman yang lebih dalam lagi mengenai introspeksi diri yang tidak hanya berfokus pada kepentingan dan pengembangan diri, tetapi juga menjadikan pengembangan diri yang dapat bermanfaat bagi banyak orang. Ini menunjukkan betapa pentingnya introspeksi atas berbagai kehidupan yang telah dilewati, sebagai bahan renungan, perbaikan diri dan kebermanfaatan untuk orang lain.

Lain halnya dengan menyalahkan diri, terlalu fokus dan menyimpulkan bahwa diri sepenuhnya salah dapat menghambat diri untuk maju, dan tidak memberi kesempatan diri untuk berkembang.

Miftakhudin dalam buku Seni Berpikir dan Bertindak Besar menerangkan, sebetulnya ada berbagai alasan kenapa orang cenderung untuk menyalahkan diri, entah itu karena kekeliruan, kegagalan atau kesalahan yang dilakukan. Misal dalam dunia kerja. Umumnya, perilaku menyalahkan diri sendiri disebabkan karena terlalu memforsir diri dan merasa punya tanggung jawab penuh atas banyak hal.

Baiknya kita melakukan introspeksi, daripada hanya berfokus pada kesalahan diri. Mengakui kesalahan boleh, karena merupakan sikap kejujuran dan kedewasaan diri, selain itu kita terhindar dari sikap egois dan sombong, tetapi jangan berlarut-larut hingga merasa diri selalu salah.
Daripada mengatakan, “Saya salah! Saya salah!” secara terus menerus, lebih baik mengatakan, “Saya akan memperbaiki kesalahan,” dan berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Jadi teringat petikan klise yang mengatakan, orang baik bukan berarti orang yang tidak pernah berbuat salah, tapi orang yang sadar akan kesalahannya, serta memperbaiki dan tidak mengulangi kesalahannya lagi. (Nuur)