Kenapa Sulit Menyesuaikan Diri di Lingkungan yang Baru?

Anak muda zaman sekarang masih ada yang kesulitan untuk sekadar berbaur dengan lingkungan barunya. Karena tidak mudah untuk menggabungkan dua orang atau lebih dalam satu kelompok. Dengan opini dan kepribadian yang berbeda-beda, itulah yang kerap kali menjadi rintangannya. Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi hal tersebut. 

Oleh:
Sari Anggita

Mengutip dari buku Motivasi Untuk Kinerja karangan Timotius Duha menjelaskan, bahwa banyak dari individu sulit untuk beradaptasi dengan suasana, mekanisme, proses, rekan kerja, dan lingkungan yang baru. Lingkungan kita selalu berubah seiring betambahnya umur. Mulai dari berbeda tempat sekolah, kuliah, kerja, dan lingkup tetangga pun menjadi pengaruh emosional dan mental diri kita.

Sebagai contohnya, lingkungan sekolah sangat berbeda 180 derajat dengan lingkungan kerja. Anak yang baru saja lulus secepatnya akan mendapatkan pekerjaan dan menghadapi dunia yang berbeda. Ada pula yang mengikuti beberapa organisasi atau kepemimpinan di kampus sehingga mendorong kita untuk beradaptasi dengan hal yang baru.

Selain faktor dari eksternal seperti halnya lingkungan sekitar, faktor internal pun turut ikut andil dalam hal ini. Sering kali kita merasa insecure atau minder saat bertemu dengan orang baru. 

Hal ini cukup banyak dirasakan oleh anak muda yang belum menemukan jati diri dan tujuan hidupnya. Jadi terkadang hal itu yang membuat mereka susah untuk membuka diri dengan lingkungan baru.

Remaja kerap dirundung rasa takut akan dihakimi, dikritik, atau dihina saat terjun ke dunia baru. Mengutip dari buku Bebaskan Diri Anda karangan Yusuf Al-Uqshari menjelaskan, bahwa bisa jadi faktor fisik atau kondisi fisik yang ada pada seseorang menjadi sebab bagi rasa minder yang dia rasakan.

Minder dapat disebabkan karena merasa kurang cantik, tidak terlalu pintar, atau pun belum memiliki kemampuan public speaking yang bagus. 

Dari sini bisa dilihat bahwa mental juga perlu diperhatikan. Tidak semua manusia memiliki mental yang kuat untuk menerima kritikan pedas. Stres dan overthinking adalah dampak dari insecure dengan orang lain saat keluar dari zona amannya. 

Menurut buku Dahsyatnya Kekuatan Bawah Sadar karya Rizem Aizid menjelaskan, bahwa salah satu solusi untuk mengatasi rasa minder adalah mengubah pikiran negatif menjadi positif. Pada bagian ini, kita harus menghilangkan pikiran-pikiran buruk dalam hidup kita. Jangan sampai pikiran negatif mengambil alih pikiran dan alam bawah sadarmu menyebabkan kita jadi takut untuk melangkah maju.

Takut gagal itu sangat wajar bagi anak muda saat ini, tapi jangan sampai itu menjadi bumerang karena tidak mau mencoba hal baru. Cobalah untuk membuka pikiranmu kepada hal yang positif atau menyenangkan dan mulai menyapa dengan orang-orang di sekitar. 

Biasakan untuk berkata atau berdoa yang baik. Maka sejatinya alam bawah sadar juga akan percaya bahwa beradaptasi di lingkungan yang baru itu mudah.

Selanjutnya adalah meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Bagaimana caranya? 

Mengutip dari buku Dahsyatnya Kekuatan Pikiran Bawah Sadar karangan Rizem Aizid menjelaskan, bahwa rasa syukur akan membuat hati tenang dan tenteram sehingga hal tersebut bisa meningkatkan kepercayaan diri seseorang. 

Gali dan maksimalkan potensi dalam diri dengan cara melatih dan mengasah apa saja yang dapat menambah kepercayaan diri kita. Dengan berpikir positif, berani untuk melangkah maju tanpa rasa khawatir, dan meningkatkan kepercayaan diri dengan cara mengasah potensi diri. 

Tidak ada kata terlambat untuk mengubah pola pikir dan tindakan kita karena yang penting apa yang kita lakukan ke depannya lebih baik daripada apa yang dilakukan kita di lampau hari. Percayalah bahwa Anda akan menjadi seseorang yang jauh lebih baik dan sukses dari apa yang Anda pikirkan sebelumnya. (Nuur)