Dahsyatnya Efek Psikologis Idul Adha

Meski jarang dibicarakan orang, mungkin karena keasyikan makan daging kurban ya, ternyata Idul Adha itu berpengaruh lho bagi pengembangan jiwa manusia. Apabila saripati ibadah ini kita serap, maka akan memberikan efek positif terhadap psikologis manusia.

Penulis:
Tiara Rizki Melala Toa

    Perlu kita ingat kembali, bahwa manusia itu makhluk yang amat psikologis. Jiwa merupakan di antara keunggulan manusia. Dengan jiwa yang sehat, maka manusia itu dapat mengembangkan kehidupannya dengan pesat.

    Zaprulkhan dalam buku Islam yang Santun dan Ramah, Toleran dan Menyejukkan menerangkan, para psikolog telah mengakui bahwa hakikat kesenangan adalah kesenangan yang tertunda, deferred enjoyment, bukan kesenangan seketika, instant enjoyment

Karena itu, kapan pun kita berjumpa dengan hari raya Idul Adha, mari kita tumbuhkan semangat berkurban dengan meneladani semangat pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail dengan berusaha terus-menerus untuk membunuh sifat-sifat kebinatangan yang bertakhta dalam diri kita, mendahulukan ridha Allah di atas segala kesenangan kita, dan melepaskan kesenangan-kesenangan semu yang bersifat jangka pendek demi kebahagiaan jangka panjang.

Saat Idul Adha kita akan dihadapkan dengan semangat berbagi. Daging-daging dari kurban kita itu untuk bagi-bagikan kepada orang lain. Apakah kita merugi? Bukankah kita mengeluarkan uang banyak demi membeli hewan kurban itu?

Mengapa dagingnya tidak dimakan sendiri saja? Ataukah uang buat membeli kurban itu dipakai saja untuk bersenang-senang?

Di sinilah yang perlu kita pahami tentang instant enjoyment atau kesenangan sementara yang malah berbahaya, karena berisiko membuat kita menjadi makhluk egois. 

Apa yang kita rasakan tatkala makan daging sendirian saja? Ya, mungkin ada kenikmatan, tetapi sementara saja. Lain halnya kalau kita daging-daging itu dibagikan dengan ikhlas, kita akan merasakan kebahagiaan hati yang luar biasa.

 Mungkin kita belum makan daging, tetapi kita menjadi bahagia melihat ada orang-orang yang menikmati pemberian ikhlas kita. Itulah kebahagiaan yang akan membangun kekuatan jiwa kita.

Hakikat Idul Adha adalah menumbuhkan semangat rela berkorban. Apabila Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail demikian ikhlas berkorban nyawa, maka kita hendaknya tidaklah berat mengorban sebagian dari yang dimiliki.

Pengorbanan itu amatlah bermanfaat bagi pengembangan psikologis manusia, menuju kebaikan yang berfaedah. Kita berkorban bukan merugikan diri sendiri, melainkan untuk meningkatkan kualitas jiwa kita menjadi lebih suci dan murni.

Dan cara terbaiknya adalah dengan melepaskan kesenangan sementara, yang tidak akan kekal itu. Kita beralih kepada kebahagiaan sejati, dari keikhlasan berkurban. (YL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *