Episode 216: Idul Adha di Negeri Hindustan

India identik dengan sebutan Hindustan. Dan dengan mudah siapapun mengetahui betapa pemeluk Hindu adalah mayoritas di negeri ini. Bahkan agama Hindu lahir di India. Apakah kami yang muslim ini dapat menunaikan shalat Idul Adha?

Penulis:
Muhammad Sahril

Alhamdulillah bisa dan insyaallah aman-aman saja. Karena penganut Islam di India juga amat banyak, nomor dua terbesar di dunia lho!  

Siapa sih yang tidak tertarik tentang Idul Adha? Kalau semisal kita ditanya tentang Idul Adha, tentu yang terlintas ialah pemotongan hewan kurban, bakar sate, makan daging dan lainnya. 

Tapi bukan hanya itu saja, Idul Adha juga merupakan momen yang menggembirakan karena kita bisa berkumpul dengan keluarga, teman, dan itu yang membuat Idul Adha juga bermakna waktu kebersamaan.

           Kali ini kami ingin berbagi tentang pengalaman Idul Adha di perantauan, tepatnya di negeri Hindustan. Apakah ada momen kebersamaan itu?

Sesuai kesepakatan bersama dengan teman-teman, kami berangkat menuju Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di New Delhi. Setiap tahun, KBRI New Delhi selalu mengadakan shalat Idul Adha. Kegiatan shalat dilaksanakan mulai dari pukul 8 sampai pukul 9.30 pagi waktu setempat yang diikuti oleh masyarakat Islam Indonesia, para diplomat, staf lokal kedutaan dan juga Duta Besar Republik Indonesia untuk India.

     Kendaraan yang ditumpangi tepat berhenti di depan gerbang KBRI. Kami merasakan udara cukup panas, baru berjalan beberapa langkah keringat sudah mulai membasahi pakaian. Ya, ini memang lagi musim panas di India.

Sambil melangkahkan kaki menuju masjid, kami sudah mulai mendengar suara lantunan takbir. Nuansa hari raya telah terasa. Ketika kami memasuki masjid, terlihat orang-orang sudah mulai ramai. Menjelang pukul 07.30 pagi, masjid sudah hampir penuh. 

Orang-orang mengenakan pakaian rapi, yang ada juga sebagiannya yang memakai kurta, busana khas India. Harap maklum, di KBRI juga terdapat beberapa staf lokal yang merupakan orang-orang India. Tentunya banyak juga yang mengenakan setelan baju batik dan peci yang menggambarkan ciri khas orang Indonesia.

Sama dengan suasana Idul Adha yang biasa kita temui di Indonesia, di sini terdengar lantunan takbir nan syahdu yang tak putus-putus. Lalu seseorang berdiri di depan mikrofon yang tersedia, dia menerangkan tentang makna Idul Adha, tauhid, pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, ibadah haji, kurban, dan diakhiri dengan menyebutkan nama imam dan khatib. 

Setelah terlebih dulu shalat Idul Adha dengan khidmat, maka khutbah pun dimulai. Setelah khutbah selesai, orang-orang membuat lingkaran dan mulai bergerak untuk saling bersalaman, dan saling mengucapkan selamat. Jamaah saling bertegur sapa dengan ramah. 

Kemudian para jemaah Idul Adha dipersilahkan untuk minum dan makan-makan. Di halaman masjid sudah tersedia beberapa meja yang menyajikan kue-kue, buah-buahan, minuman dingin dan juga nasi kotak.

           Laki-laki, perempuan, orang-orang tua hingga anak-anak dengan sabar serta gembira mengantri untuk mengambil makanan yang diinginkan. Apalagi yang tadi pagi belum sarapan, jadi tentunya lumayan lapar. Lagi pula memang disunnahkan untuk berpuasa sebelum shalat Idul Adha.

Kami mensyukuri nikmat ini, bisa menyantap berbagai menu khas Tanah Air, meski sedang berada di negeri rantau. Para jamaah bersantap sambil berbincang-bincang hangat.

     Acara ramah tamah itu kian syahdu dengan lagu-lagu religi. Dan untuk pertama kalinya KBRI New Delhi membuat sebuah panggung kecil yang diisi dengan penampilan lagu-lagu religi yang dibawakan teman-teman mahasiswa Aligarh. 

Oh ya, jadi teringat sesuatu! Tampaknya ada yang kurang dalam acara ini. Kami tidak melihat adanya ketupat dan gulai yang biasa dimakan pada hari lebaran ketika di Indonesia. Tampaknya tidaklah mudah menemukan ketupat di negeri Hindustan ini.

Tetapi, kami pun tidak berharap muluk-muluk terhadap ketupat. Ketika bisa bersantap dan berjumpa sesama orang Indonesia saja sudah merupakan suatu nikmat yang perlu disyukuri. Alhamdulillah!.

    Namun kisah ini kami alami sebelum pandemi, ketika kemeriahan itu masih terasa dan cukup mengobati kerinduan dengan kampung halaman. Kini Covid-19 sedang merajalela, dengan demikian Idul Adha pun diperketat, ada protokol kesehatan yang harus kita perhatikan. (Sahril)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *