Demonstrasi Perempuan Terhadap Rasulullah

Dan yang acap kali terdengar oleh kita, perempuan itu melakukan demo masak. Memang sih wanita dikira kerap berurusan dengan perkara dapur. Lain halnya perempuan di masa Rasulullah, ketika mereka berkumpul lalu menyuarakan protes kepada Nabi Muhammad saw.

Penulis :
Rina Novia

Tentunya unjuk rasa mereka amat mengejutkan, sebab Rasulullah adalah pemimpin yang amat dihormati dan dicintai. Beliau juga seorang yang berbudi baik, tidak pernah Rasulullah melakukan perbuatan buruk, apalagi yang merugikan hak-hak orang lain.

Dan Nabi Muhammad menghadapi mereka dengan penuh ketenangan. Beliau mencoba untuk memahami penyebab para muslimah itu unjuk rasa. Kejadian ini tertera pada kitab Shahih Bukhari:

Salah seorang muslimah yang mewakili para demonstran berkata, “Wahai Rasulullah! Kami tidak lagi mempunyai waktu untuk belajar kepadamu. Itu karena semua waktu sudah dipakai untuk kaum laki-laki. Bagaimana jadinya kalau kami tidak belajar?”

Ada benarnya apa yang diucapkan itu, memang kaum lelaki memiliki lebih banyak waktu meraup ilmu pengetahuan. Apalagi kaum lelaki punya banyak kesempatan menyertai Rasulullah. Dimana pun Nabi Muhammad berada, kaum lelaki dapat mengikutinya sehingga memperoleh banyak pengajaran.

Hal macam itu yang tidak dapat dinikmati kaum muslimah, tidaklah mungkin mereka mengiringi kemana Rasulullah berada. Kondisi itu membuat mereka kecewa.

“Oleh karena itu, sediakanlah waktu agak sehari bagi kami. Kami pun ingin pula belajar,” tuntut mereka.

Bukannya tersinggung atau pun marah, Rasulullah justru menerima dengan terbuka tuntutan para demonstran. Beliau memahami bukannya marah terhadap demonstrasi itu, sebab yang dituntut mereka adalah kebaikan. Lagi pula apa yang mereka sampaikan benar adanya. Hak pendidikan itu memang mestilah setara, bagi laki-laki maupun perempuan.

Permasalahan itu tidak dibiarkan berlarut-larut, karena nantinya akan semakin menambah kekecewaan. Kaum muslimah itu tidak boleh lagi dibiarkan kehilangan kesempatan penting.

Maka Nabi Muhammad berkata, “Baiklah. Kita akan sediakan hari-hari khusus bagi kaum wanita untuk belajar.”

Seluruh demonstran bersuka cita mendengarkan janji Rasulullah. Pada saat itu juga unjuk rasa pun berakhir dengan sentosa. Mereka pulang ke kediaman masing-masing dengan harapan yang bersemi di hati.

Bukan hanya pandai berjanji, akan tetapi Nabi Muhammad senantiasa memenuhi janji-janjinya.  Sejak itu pula kalangan muslimah berbondong-bondong menghadiri pengajian. Dimana mereka memperoleh berbagai ilmu pengetahuan berharga langsung dari Rasulullah.

Betapa luar biasanya kepribadian luhur yang diperlihatkan oleh Nabi Muhammad. Di masa jahiliyah itu perempuan diremehkan, bahkan dipandang hina. Ketika itu pula bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib oleh ayahnya.

Maka Nabi Muhammad tampil menghargai perempuan dan mengangkat derjat mereka sehingga dimuliakan. Beliau menerima protes kaum prempuan dan tidak mencela unjuk rasa mereka.

Bahkan beliau pun memberikan kesempatan yang sama bagi muslimah untuk mencicipi pendidikan terbaik. Ini gambaran dari kualitas pribadi terbaik, yang mana memuliakan kaum perempuan dan memperhatikan hak-haknya.

Akan tetapi hikmah itu bukan hanya berkaitan dengan pribadi Rasulullah yang luar biasa itu. Kita perlu mengetahui mutiara kehidupan lainnya dari kejadian ini.

Dari demonstrasi kalangan perempuan ini, banyak sekali pelajaran hidup yang dapat kita petik hikmahnya, sebagai perempuan, di antaranya:

Pertama, beranilah bersuara atau menyampaikan pendapat bahkan memprotes terkait dengan hak-hak penting, semisal pendidikan dan hak-hak hidup lainnya.

Seringnya terjadi diskriminasi atau kekerasan terhadap perempuan tidak terlepas dari kebanyakan mereka yang diam saja ketika diganggu hak-haknya. Jadi, tidak selamanya lho diam itu emas.

Kedua, sampaikanlah dengan santun. Karena kehormatan seseorang terlihat dari kesantunannya dalam berbicara. Lagi pula orang yang emosional bukan hanya tidak enak dilihat, juga tidak akan disukai.

Ketiga, carilah solusi dan jangan memperpanjang masalah. Apabila ada yang dipandang tidak baik, maka bersuaralah untuk menemukan solusi terbaik. Jangan hanya unjuk rasa atau marah-marah tanpa memikirkan jalan keluarnya. Kemudian setelah solusi itu disepakati, maka taatilah dengan seksama. Jangan lagi memperpanjang persoalan, apalagi membuatnya semakin kusut. Fokuslah untuk melaksanakan solusi itu agar kehidupan menjadi lebih membaik. (YH)