Manfaat Puasa Terhadap Psikologi Manusia

Ramadan merupakan bulan yang paling ditunggu-tunggu bagi setiap umat Islam. Inilah momen di mana kita menyantap makan sahur, berbuka puasa, hingga shalat Tarawih bersama dan lain-lain.

Ternyata ibadah Ramadan mempunyai efek psikologis yang amat mengagumkan.. Di mana orang-orang berpuasa selama 30 hari dengan tujuan untuk memperbaiki diri dalam prinsip-prinsip iman.

Penulis:
Nuur Taufiiqoh Fithriyyah

Selama berpuasa kita mendisiplinkan pikiran dan tubuh, serta menahan hawa nafsu. Terbuka pula kesempatan merenungkan karunia yang diperoleh dalam hidup, juga belajar bersyukur atas apa yang dimiliki.

Asalkan ibadah Ramadan dilaksanakan dengan tulus ikhlas, maka banyak sekali manfaat psikologis yang akan didapatkan, di antaranya:

Pertama, meningkatkan kewaspadaan.

Apakah itu hilangnya kewaspadaan? Kondisi di mana kita tidak dapat merespons atau bergerak dengan cepat ketika dalam keadaan darurat, atau melakukan tindakan keamanan seperti saat kondisi normal. Hal ini terjadi disebabkan oleh beberapa faktor.

Akan tetapi tahukah Anda bahwa dengan berpuasa, kita dapat meningkatkan kewaspadaan?

Widaad Zaman menjelaskan pada lamanwhyislam.org bahwa tubuh kita mengubah makanan menjadi glukosa, kelebihannya menyebabkan perasaan lesu dan kantuk, yang dialami kebanyakan orang setelah makan. Puasa membantu mengatur kadar glukosa dalam tubuh, sehingga mengurangi kelesuan dan meningkatkan kewaspadaan.

Kedua, mengatasi depresi.

Mungkin di antara kita pernah mengalami stres yang diakibatkan oleh lingkungan, tugas sekolah, masalah kantor, atau mungkin juga keluarga. Banyak sekali orang yang mengatasi tekanan psikologis dengan meminum obat-obatan atau pergi ke dokter.   Parahnya, bahkan ada yang melakukan bunuh diri karena tidak lagi mampu membendung perasaannya. Ternyata dengan melakukan puasa, kita akan terlatih mengatasi stres yang dialami.

Ahmad Zacky El-Syafa pada bukunya Nikmatnya Ibadah menerangkan, bahwa ada seorang guru besar Fakultas Kedokteran Qassr Al-Ainiy di Kairo, Tsana Muhammad Ali menegaskan manfaat puasa untuk merawat berbagai penyakit jiwa, khususnya kegoncangan dan depresi mental.

Sebenarnya ini bukanlah bagian dari penyakit, melainkan kepribadian sensitif yang tidak mampu beradaptasi atau berdampingan hidup dengan lingkungan sekitar. Puasa mampu mengembalikan keseimbangan mental dan kemampuan dalam mengontrol sikap serta tindak tanduknya dengan normal.

Ketiga, kebahagiaan hakiki.

Apa sih yang dicari dalam kehidupan ini? Ya, kebahagiaan itulah puncak pencapaian batin yang diharapkan oleh manusia. Nah, berbagai amalan Ramadan ini benar-benar mendekatkan kepada Allah. Sehingga hati pun diliputi kebahagiaan yang tiada taranya.

Jangan biarkan Ramadan berlalu begitu saja tanpa menghadirkan kebahagiaan hakiki. Jangan sia-siakan keberkahan berpuasa yang menakjubkan ini, oleh sebab itu bersegeralah meraih kebahagiaan di jalan Tuhan. Tiada bahagia yang melebihi keindahan bahagia memperoleh keridaan Allah.

Itulah beberapa manfaat psikologis bagi orang yang melakukan puasa. Sehingga setelah Ramadan kita akan terlahir sebagai manusia dengan psikologis yang mantap. (Aini)