Mengajak Anak Berpuasa Bagian Dari Memberikan Perasaan Bahagia

Baligh atau telah sampainya seseorang pada usia kedewasaan menjadi salah satu syarat wajib untuk puasa. Tapi, anak-anak juga perlu diajarkan dan dilatih berpuasa, meski pun itu hanya setengah hari. Dan akan lebih hebat lagi jika anak-anak bersemangat menyempurnakan puasanya sehari penuh. Subhanallah!

Karena puasa bukan sekadar perkara menahan haus dan lapar. Puasa juga  memiliki banyak manfaat lain, seperti melatih disiplin, mengendalikan diri, dan membantu meningkatkan kesadaran akan keyakinan spiritual. Anak-anak makin antusias menyambut Ramadan, dikarenakan di bulan suci ini keluarga banyak menghabiskan waktu bersama.

Penulis:
Muhammad Sahril

Sebaiknya ayah bunda mengajarkan puasa itu tidak hanya menahan lapar dan dahaga saja, tapi puasa juga bermanfaat bagi perkembangan mental. Orangtua dapat memaksimalkan manfaat puasa bagi perkembangan psikologis anak, di antaranya:

Pertama, menstabilkan emosi.

Fisik dan mental saling berinteraksi satu sama lain. Maksudnya, seorang anak yang diajari untuk membiasakan diri berpuasa sejak dini, akan mudah mengendalikan dimensi emosionalnya dan perilakunya dapat dijaga dengan baik.

Dalam buku yang berjudul The Science of Emotions, Fahad Basheer menuliskan bahwa emosi tidak lain adalah perasaan kuat yang dialami seseorang berdasarkan keadaan, suasana hati, atau hubungan dengan orang lain. Mungkin naluriah atau intuitif.

Kondisi keluarga yang berpuasa dalam nuansa psikologis yang positif, tentunya berpengaruh baik terhadap mental anak. Karena itu, tidak ada salahnya mulai mengajari anak untuk berpuasa sejak dini, dan menerangkan hakikat pengendalian diri.

Kedua, tubuh sehat, pikiran sehat.

Swami Brahmeshananda juga menuliskan dalam buku Healthy Mind Healthy Body: New Thoughts On Health  bahwa pikiran yang sehat dan tubuh yang sehat adalah aset besar dalam pengembangan kehidupan spiritual yang sehat.

Nah, itulah yang penting diperoleh anak dalam berpuasa; pikiran dan badan yang sehat, yang berpengaruh kepada sisi psikologis yang baik. Anak akan terjauhkan dari pikiran-pikiran negatif, dan memberi semangat untuk menjalani hari-harinya selama berpuasa.

Namun, orangtua perlu bijaksana terhadap puasanya anak-anak, karena mereka memang bukanlah yang tergolong wajib berpuasa. Dalam usia kecil tersebut, kebutuhan metabolisme mereka meningkat. Sehingga anak-anak membutuhkan lebih banyak cairan dan sumber energi untuk menjaga kesehatan tubuhnya, terutama untuk perkembangan otaknya.

Orangtua bisa terlebih dahulu hanya sekadar mengajarkan tentang puasa terhadap anak. Karena anak banyak belajar dari kehidupan sehari-hari, apalagi dengan melihat kegiatan keluarganya.

Untuk kasus anak-anak, mengajak mereka berpuasa hanya bahagian dari memberikan perasaan bahagia ketika dilibatkan dalam kegiatan positif. Semakin besar anak, maka mereka dapat meningkatkan durasi puasanya secara bertahap, yang membantu tubuh anak untuk menyesuaikan diri. (RN)