Episode 201: Ini Kata Gadis Kashmir Saat Coba Makan Bakso Aci Indonesia

Lagi Ramadan begini dijamin asyik ngomong soal makanan. Kalau sedang berpuasa menu apa saja tampak menggoda. Apalagi lagi jauh di negeri rantau, berbagai kerinduan itu menyeruak, khususnya mengenai hidangan Nusantara.

Berbeda budaya, berbeda pula ragam cita rasa lidahnya. Sebetulnya makanan khas India pun tidak kalah menarik dan juga sedap rasanya, seperti Paratha, roti Maryam, Samosa, Dosa (aduh dosa di bulan suci nih) dan Ladu. Akan tetapi cita rasa manis dan aneka bahan pokok tepung memang lebih mendominasi bahan makanan Hindustan.

Penulis:
Rina Alfina Zulfa

Sekarang lidah kami sudah terbiasa saat menyantap nasi Biryani bercampur bawang merah mentar segar dengan taburan bumbu Masala. Tidak ada lagi kejadian lidah yang kaget.

“Awalnya rasa Masala khas India itu membuat aku kurang berselera makan. Namun ternyata ada juga rasa Masala yang cocok dimakan dengan menu tertentu,” ujar Zulfa.

Juga hampir di setiap aneka jenis makanan India, kami sangat akrab dengan lalapan bawang merah segar yang diiris tipis. Kalau di Indonesia, betapa seramnya makan mentah-mentah bawang merah. Dalam mimpi paling buruk pun tidak tega rasanya melakukan itu.

Tapi kok India mampu merubah mimpi buruk itu? 

Zulfa berkata, “Lambat laun aku pun terbiasa juga memakan bawang merah segar secara langsung. Karena rasa bawang merah di sini manis dan tidak terlalu beraroma pekat di mulut sehingga memungkinkan untuk di makan secara mentah.”

Berani coba?

Aha!

Hari itu, kebetulan kami mengundang mahasiswi asing untuk makan bersama. Rukshana Aphi, itulah nama yang akrab kami sapa. Dia mahasiswi Aligarh Muslim University yang berasal dari Kahsmir, negeri yang dijuluki surga. Selain alamnya yang subhanallah indah, orang-orangnya juga cakep-cakep.

Kebetulan sekali saat itu kami memasak makanan khas Indonesia, yakni bakso Aci. Karena bahan-bahannya cukup mudah dan banyak tersedia di India. Jadi, kami bisa dengan mudah untuk meraciknya.

Sebelumnya, seringkali, kami mengurungkan niat untuk membuat makanan khas Nusantara akibat terkendala dengan bahan-bahan yang tidak tersedia. Sehingga sulit bagi kami jika ingin membuat makanan Indonesia yang rasanya serupa seperti di kampung halaman.

Tentunya ini bukan kali pertama kami makan bersama dengan Rukshana Aphi. Tak jarang juga kami mencicipi makanan khas buatan tangannya, yang rasanya juga sama enaknya. Namun, ini kali pertama kalinya bagi Rukshana Aphi mencicipi bakso Aci.

Beraneka bahan sudah disiapkan, mulai dari ceker ayam, telur rebus, mi, daun bawang, sambal dan tentunya ada gorengan juga. Bakso Aci telah terhidang. Kami mengajarkan Rukshana tata cara makannya. Tak lupa mengajarkan cara mencampurkan semua bahan dengan takaran sesuai selera.

Rukshana merasa aneh ketika melihat ceker atau kaki ayam yang terhidang. Padahal itu sudah jadi santapan biasa orang Indonesia. Kok jadi heran sih, Neng!

Ini karena orang India hanya makan bagian daging atau tubuh dari ayam saja. Dan tukang ayam di sini juga sering membuang kepala, ceker, atau kulit ayam yang dilepas langsung saat penyembelihan. Sehingga jika membeli daging ayam di sini sudah tidak ada kulit yang tersisa.

Rasa bakso Aci yang kenyal ternyata menarik bagi mahasiswi asal Kahsmir ini. Kami bangga karena makanan Nusantara diminati gadis cantik. Namun, kami ingin dirinya benar-benar menikmati bakso secara maksimal. Dari itulah kami mempersilahkan dirinya menambahkan sambal.

Saat menambahkan sesendok sambal ke mangkok, dia pun mencicipinya dengan santai. Tak lama kemudian dia merasa amat kepedasan. Padahal lidah kami merasa tidak terlalu pedas.

Lagi-lagi ada kejadian lucu, dia hanya memakan baksonya saja. Katanya, “Rasa kuahnya enak tapi terlalu cair.”

Sebab kuah dari bakso Aci bening alias tidak kental. Hal ini berlainan dengan kebanyakan sup-sup di India yang berbentuk kari, dan kuahnya kental dengan cita rasa bumbunya lebih kuat.

Begitulah indahnya diplomasi bakso Aci. Sesuatu yang akan mendekatkan hati antarbangsa. Jika Rukshana sempat kaget dengan cita rasa pedasnya, maka itu bagian dari perkenalan. Toh, nantinya juga akan terbiasa.

Kemudian setelah bakso Aci habis, ternyata gadis Kashmir itu juga beraksi. Dia  membuatkan kami manisan yang terbuat dari kelapa parut yang dicampur susu kemudian gula dan diaduk bersama lalu dikukus.

Apakah ini jebakan?

Mari kita lihat saja ya!

Kami lupa nama manisan itu apa. Tapi Rukshana bilang keluarganya sering membuat manisan tersebut. Rasanya gurih dan sangat manis yang sebaiknya disantap saat masih dalam keadaan hangat. Menurut kami ini cocok untuk disantap di musim dingin.

Akhirnya semua makanan telah habis kami santap, perut kenyang dan kebetulan sedang hari libur. Sehingga cocok bagi kami untuk mengakhiri weekend  kali ini dengan bercengkrama dengan teman-teman. (Zulfa)