Sering Memberi Hukuman Anak, Apakah Mentalnya Terganggu?

Seorang ibu amatlah panik, karena gempa melanda. Rumahnya berguncang hebat. Saat hendak keluar menyelamatkan diri, dia makin panik, putra mungilnya Bob [nama rekaan] tidak ada. Kemana anak itu?

Dia berseru, “Booooooooob!”

Ternyata Bob sedang menggigil ketakutan di sebelah lemari. Bocah itu berkata, “Bukan, Mama! Bukan Bob!”

Penulis :
Tiara Rizki Melala Toa

Bob yang malang. Anak itu bukannya takut gempa, tapi takut kena marah ibunya. Bob mengira ibunya marah karena membuat ulah hingga rumah berguncang hebat. Kenapa demikian?

Untuk kesalahan menumpahkan air di cangkir saja, hukuman yang diterima Bob amatlah berat. Apalagi kesalahan besar mengguncang rumah.

Kasihan Bob!

Kebanyakan orangtua pernah menghukum anaknya. Dan yang patut dipertanyakan, apakah orangtua telah memiliki bekal ilmu yang memadai sebelum menjatuhkan hukuman?

Ingatlah, hakim merupakan pihak yang dipercaya di lembaga peradilan untuk memutuskan hukuman kepada terdakwa. Hukuman itu dibuat agar orang insyaf dan memperbaiki dirinya.

Dan bukan perkara gampang menjadi hakim, karena perlu menempuh pendidikan dan pelatihan yang panjang. Lantas apa bekal kita sebagai orangtua dalam memberikan hukuman?

Ya, orangtua memerlukan pula pengetahuan yang memadai perihal hukuman.

Jarot Wijanarko dalam buku Mendidik Anak: Untuk Meningkatkan Kecerdasan Emosional dan Spiritual menerangkan, bahwa fungsi hukuman adalah untuk menegaskan peraturan, menyatakan kesalahan, dan menyadarkan seseorang yang berada di jalan yang salah agar meninggalkan jalan tersebut.

Makanya tujuan untuk menyadarkan itulah yang benar-benar penting diperhatikan, sehingga hukuman bukannya menjadi pelampiasan amarah orangtua, atau malah berpotensi menjadi trauma bagi anak.

Dari itu, akan berbahaya jika hukuman yang diberikan berkaitan dengan fisik, seperti memukul, menendang dan tindakan menyakitkan lainnya.

Hukuman fisik sangat tidak dianjurkan oleh para psikolog anak. Sebab hukuman model kekerasan ini memiliki dampak yang dapat membahayakan diri anak ke depannya, bahkan ketika nantinya tumbuh dewasa.

Dampak lainnya adalah anak justru tidak akan mengubah perilakunya. Dan malah hal itu memunculkan perasaan benci di dalam dirinya terhadap orangtua.  

Trauma berkepanjangan, kurang percaya diri dan takut menghadapi kehidupan dunia juga menjadi dampak buruk yang dapat ikut muncul akibat pemberian hukuman fisik. Ini jelas mempengaruhi mental anak. Jika seperti ini, tujuan kebaikan untuk sang anak yang diharapkan dari hukuman tidak akan terwujud.

Sebaiknya hukuman yang diberikan harus mendidik, yang memberikan pelajaran serta pemahaman. Hukuman itu menyadarkan anak tentang kesalahannya dan hukuman pula menjadikannya bersemangat memperbaiki diri.

Ada lho hukuman yang bisa jadi lebih menyakitkan dari kekerasan fisik. Apakah itu? Ya, yang berupa hukuman verbal.

Perhatikanlah teguran dan peringatan yang diberikan pada anak. Apakah berupa kalimat negatif atau positif? Karena jelas hal itu juga mempengaruhi perilaku anak. Bahkan perkataan yang keras atau menyakiti dapat menjadi hukuman yang membuat anak trauma.

Jangan sampai memberi cap yang negatif pada anak, misalnya dengan mengatakan, “Kamu nakal sekali!” atau “Dasar anak bandel, tidak bisa diam!”.

Ini bisa membuat anak merasa rendah diri dan kurang percaya diri. Apalagi jika kata-kata itu diucapkan di depan orang lain, maka di hati anak ini membuat terciptanya luka. Sayangnya tidak banyak yang menyadari perkataan pedas itu dapat memukul mental anak dan membuatnya trauma.

Lalu bagaimana baiknya?

Sal Severe menerangkan pada buku Bagaimana Bersikap Pada Anak Agar Anak (Prasekolah) Bersikap Baik, bahwa ketika hukuman bersifat wajar, anak-anak belajar bahwa perilaku yang baik itu penting. Hukuman yang ringan biasanya lebih produktif daripada hukuman yang keras.

Ketika kita menggunakan hukuman ringan bersamaan dengan penjelasan tentang alasan peraturan itu, anak kita akan lebih memahami dan menghargai apa yang coba kita ajarkan. Pendekatan ini menciptakan hubungan yang positif antara orangtua dan anak, yang akan sangat bernilai sementara ia bertumbuh dewasa. [RN]